Veteran Perang yang Ditinggal di Pinggir Jalan
Pagi 17 Agustus di Pandeglang selalu punya pola. Jalanan penuh bendera merah-putih, anak-anak latihan balap karung, pengeras suara di lapangan memutar lagu-lagu perjuangan.
Di tengah semua itu, Tugu Gozali Buntung berdiri di pertigaan Mengger. Biru, pudar, tapi masih tegak. Kalau dia manusia, mungkin ekspresinya seperti veteran perang yang bosan lihat pesta tapi tahu tidak ada yang benar-benar menanyakan kabarnya.
Dibangun dengan Perintah Bung Tomo, Dilupakan Tanpa Perlawanan
Tugu ini memperingati Tb. Ahmad Ghozali (Gozali Buntung), seorang komandan gerilya yang lahir 31 Desember 1924 di Pandeglang. Ia dikenal atas taktik gerilya cerdik dan serangan bambu runcing yang berhasil mengejutkan Belanda saat Agresi Militer II, termasuk merampas senjata dan kendaraan musuh.
Didirikan pada era 1970-an atas inisiatif Bung Tomo dan Presiden Soekarno, tugu ini diarahkan menghadap Labuan sebagai simbol pengintaian pasukan. Desainnya menampilkan sembilan anak tangga (jejak perjuangan), keramik biru (ketenangan dan patriotisme), dan puncak berbendera Merah-Putih (semangat bangsa).
Lokasinya strategis—dulu titik pengawasan pasukan, sekarang cuma jalur lewat truk pasir dan motor ke Labuan atau tempat wisata lainnya yang terkenal di pandeglang
Sembilan anak tangga, keramik biru, bulatan Merah Putih—semuanya punya makna. Tapi makna itu menguap pelan-pelan, seperti cat yang mengelupas di sudut-sudutnya.
80 Tahun Merdeka, Tapi QR Code Saja Tidak Punya
Tema kemerdekaan tahun ini: “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.” Tapi tugu ini malah jadi pengingat kecil bahwa kita sering merayakan tanpa benar-benar mengingat.
Perawatan? Setahun sekali. Papan cerita? Tidak ada. QR code? Apalagi. Warga yang lewat pun jarang tahu siapa Gozali Buntung. Di kepala banyak orang, ini cuma “bangunan biru di tikungan yang tidak terlihat.”
Luka Sejarah Itu Bukan Cuma Tentang Darah
Monumen seperti ini adalah jembatan antara masa lalu dan generasi sekarang. Saat narasinya hilang, yang tersisa cuma bentuk. Dan bentuk tanpa cerita itu rapuh—mudah digeser, mudah diabaikan.
Lupa pada detail perjuangan bukan sekadar kehilangan data sejarah, tapi juga kehilangan koneksi emosional yang membuat kita peduli.
Jangan Biarkan Dia Sendirian Sampai Tahun Depan
Kalau mau serius menjaga memori, kita harus berhenti memperlakukan tugu ini “hanya” seperti properti set untuk perayaan Agustus. Ada langkah sederhana tapi berarti: Sekolah lokal “mengadopsi” tugu sebagai kelas sejarah di luar ruang; papan cerita atau QR code untuk membangkitkan narasi yang hilang; agenda komunitas reguler yang tidak bergantung pada satu tanggal.
Sanggupkah Kita Menatap Mata Keramiknya?
80 tahun merdeka, kita senang bilang “jangan lupakan sejarah.” Tapi di tikungan Mengger, ada tugu yang membuktikan bahwa melupakan sering datang diam-diam Jika tugu itu bisa berbicara hari ini, mungkin ia akan berbisik: “Aku tidak dibangun untuk dipuja dalam sehari, tapi untuk diingat sepanjang sejarah.”



